Karya 6 Desainer Indonesia di Pameran Contemporary Muslim Fashion

Karya 6 Desainer Indonesia di Pameran Contemporary Muslim Fashion

Contemporary Muslim Fashions merupakan sebuah pameran utama yang diadakan di museum kenamaan dunia, yang mengeksplorasi kompleksitas, keragaman, dan nature dari busana muslim di seluruh dunia. Pameran ini mempelajari bagaimana para wanita muslim, baik yang berkerudung maupun yang tidak, telah membawa dan menularkan gaya fashion tertentu baik dalam maupun (jauh) di luar komunitasnya, sekaligus menarik perhatian dan membuka mata dunia tentang kehidupan muslim kontemporer.

Pameran ini menitik dan menyorot pada gaya, tempat dan material busana dari seluruh dunia, menunjukkan bagaimana muslim mendefinisikan dirinya sendiri (dan didefinisikan) dengan busana, dan bagaimana pilihan berbusana berdasarkan iman ini dapat merefleksikan identitas budaya yang multikultur. Pameran ini melintasi berbagai penafsiran dan menampilkan bermacam ensemble busana muslim, termasuk mode kelas atas, street wear, gaun pernkahan yang rumit, pakaian kerja, pakaian olahraga, seperti burkini; dan koleksi desainer modest fashion. Karya fotografi juga dipamerkan, dari media sosial sebagai bahan utama, suara Muslim dan narasi pribadi yang dibingkai dalam bentuk rekaman, klip berita, dan dokumenter dan fotografi mode.

Pameran yang diwarnai dengan multimedia warna-warni ini diluncurkan Jumat malam (21/9) di Museum de Young di San Francisco dengan pesta pratinjau, yang menarik perhatian internasional dengan lebih dari 500 pengunjung museum, bersama dengan lebih dari 80 desainer dari seluruh dunia dan seniman dari dunia Muslim.


"Kami menghabiskan dua tahun meneliti busana Muslim dan implikasi sosial mereka, dan menghadiri pekan-pekan mode di Turin, Dubai, Malaysia, dan London untuk menemukan para desainer pakaian Muslim terkemuka," kata Jill D'Alessandro, kepala Museum Seni Rupa San Fransisco. Departemen seni tekstil dan kostum, yang didirikan pada tahun 1983. D'Alessandro mengkurasi pertunjukan dengan Laura Camerlengo, berkonsultasi dengan Reina Lewis, profesor studi budaya di London School of Fashion.

"Dari awal, kami membahas bagaimana wanita Muslim menjadi sangat penting dalam semua aspek industri fashion global, mulai dari pendiri perusahaan, blogger berpengaruh, desainer, retail, desainer tekstil," kata D'Alessandro. “Pengeluaran mode global saat ini oleh wanita Muslim diperkirakan sebesar $ 44 miliar dan berkembang sangat cepat ketika wanita muda memasuki tempat kerja. Dan kami memilih bentuk mode dan gaya visual yang kaya yang mewakili keragaman, pakaian nasional, interpretasi berani, tekstil tradisional. ”

Konsep untuk pameran ini pertama kali diprakarsai lebih dari tiga tahun yang lalu oleh Max Hollein ketika ia tiba dari Jerman sebagai direktur Museum Seni Rupa San Francisco dengan ide-ide pameran yang akan membawa lebih banyak dialog global.

“Saya telah mengamati bahwa pakaian Muslim adalah perhatian bagi sebagian orang, dan pada saat yang sama dunia fashion Muslim kontemporer internasional bersemangat booming dan berpengaruh,” kata Hollein, yang berkunjung dari New York di mana pada bulan Agustus ia menjadi direktur  Museum Seni Metropolitan. "Saya ingin memulai eksplorasi dan dialog tentang busana Muslim dengan pertunjukan yang akan memberi informasi, dan menjadi penemuan dan mungkin bahkan terobosan."

Hollein mencatat bahwa perusahaan-perusahaan fashion global seperti Uniqlo, dengan koleksi sederhananya, dan Nike dengan jilbab atletiknya, menyadari kekuatan pasar Muslim. Karena semakin banyak wanita muda yang taat memasuki dunia kerja, tidak hanya mereka membutuhkan pakaian modest, tetapi juga memiliki gaji dan pengeluaran yang tidak sedikit, katanya.

Partisipasi 6 Desainer Indonesia

Indonesia termasuk dalam elemen terpenting mode muslim dunia, dan De Young mengundang 6 desainer Indonesia untuk berpartisipasi dalam pameran ini. Mereka adalah Dian Pelangi, Khanaan Shamlan, Itang Yunasz, Rani Hatta, IKYK dan NurZahra. Keenam desainer menampilkan karya yang sangat lekat dengan karakter dan identitas fashion masing-masing. Rancangan yang terpilih menunjukkan keragaman dan ciri khas masing-masing desainer, seperti Dian Pelangi yang membawa 3 karya, dari koleksi Krama, koleksi Haute Couture 'Eredita Srivijaya' yang pernah ditampilkan di Torino Fashion Week, dan Allurealist yang pernah ditampilkan di NYFW 2017.


Itang Yunasz, yang rancangannya terpilih sebagai cover buku/katalog publikasi resmi pameran ini mengatakan "“Bagi saya, berbusana santun bukanlah sekadar fashion, tetapi bisa diibaratkan ‘jiwa’ kami sebagai umat muslim, dan pameran ini menjadi sangat penting dalam perkembangan busana muslim karena bisa dianggap sebagai sebuah statement, sebuah bentuk diterimanya dan dihormatinya sebuah keyakinan sebagian umat dalam berpenampilan yang mengacu pada petunjuk-Nya, yang kemudian penerimaan ini dibagikan pada masyarakat luas melalui sebuah presentasi pameran. Bisa dibilang, Contemporary Muslim Fashions adalah bentuk nyata saling menghargai dan toleransi antar pemeluk agama, ini sungguh hal yang luar biasa dan saya sangat menghargai mereka yang terlibat mulai dari membuat riset, menggagas, memrakarsai, memberi izin dan siapa pun yang terlibat dalam pameran ini."


Itang Yunasz menampilkan 3 koleksi yang mengusung tema 'Tribalux Sumba'. Melalui ketiga karyanya Itang Yunasz ingin menyampaikan kecintaannya pada pesona tana Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kecantikan dan keindahan motif kain tenun Sumba mampu membuat Itang terpaku akan sebuah warisan budaya leluhur. Masing-masing kain memiliki motif dengan detail yang memesona seakan bercerita tentang tradisi. 

Tidak hanya dipresentasikan selama pameran, beberapa koleksi dari desainer Indonesia ini juga mendapat kehormatan untuk diperagakan pada fashion show saat acara pembukaan pameran. 

Pameran Contemporary Muslim Fashions akan berlangsung hingga 6 Januari 2019, dan selanjutnya akan melakukan perjalanan tahun depan ke Museum Angewandte Kunst di Frankfurt.



(images from wwd.com)

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

IPMI Meneguhkan Posisi Fashion Terkurasi

IPMI Meneguhkan Posisi Fashion Terkurasi

Rutin digelar selama 33 tahun, IPMI Trend Show tetap konsisten menyuguhkan fashion pilihan yang berkelas

READ MORE
Menanti Zelmira menjadi Merek Modest Fashion Internasional

Menanti Zelmira menjadi Merek Modest Fashion Internasional

READ MORE