Inspirasi Jalur Sutra Phillip Iswardono

Karakter Jawa dan oriental melebur apik dalam jalinan indah koleksi Jalur Sutra rancangan Phillip

Inspirasi Jalur Sutra Phillip Iswardono

Silk Road atau Jalur Sutra dikenal sebagai sebuah penanda penting perkembangan peradaban dunia modern. Jalur Sutra adalah jaringan rute perdagangan kuno yang menghubungkan Timur dan Barat. Jalur Sutra menjadi adalah pusat interaksi budaya paling penting antara banyak negara selama berabad-abad. Jalur Sutra mengacu pada rute darat dan maritim yang menghubungkan Asia Timur dan Asia Tenggara dengan Afrika Timur, Asia Barat, dan Eropa Selatan.

Jalur Sutra dimulai pada era Dinasti Han di China dan disebut demikian karena sutra menjadi salah satu komoditas penting yang diperdagangkan. Jalur Sutra yang melewati berbagai wilayah yang membentang dari dunia Timur ke Barat, menjadikan jalur ini sebagai perantara kebudayaan selama berabad-abad, dan membuat dunia barat mengenal kebudayaan timur (China, India dll) dan sebaliknya.

Jalur Sutra yang monumental ini diangkat menjadi tema besar yang menginspirasi Phillip Iswardono, desainer asal Jogja untuk membuat koleksi terbarunya, ditampilkan dalam show tunggal pada Jogja Fashion Week 2018. Jalur Sutra menghidupkan pusat-pusat peradaban manusia yang dilaluinya, merekam kebudayaan manusia yang saling mengenal antara dunia timur dan barat yang berbeda. China kala itu telah menjadi peradaban yang maju dan berkembang, yang sangat mempengaruhi wilayah-wilayah di sekitarnya. 

China yang merupakan penghasil benang dan kain, salah satunya sutra, yang dibawa serta digunakan oleh para pedagang, pengelana dan bangsawan melalui Jalur Sutra. Kemegahan peradaban dari Timur ini, pada masa itu, yang ditangkap dan diwujudkan oleh Phillip dalam rangkaian koleksi menakjubkan. 

  

  

Phillip dikenal melalui karya-karya desainnya yang konsisten menggunakan lurik. Namun tidak melulu lurik dengan bermotif garis yang biasa kita lihat, Phillip mengolah dan mengeksplorasi lurik lebih jauh dengan tampilan yang lebih luwes. Koleksi The Silk Road memadukan beragam kain, selain lurik Phillip juga menggunakan batik, sulam, brokat dan lainnya.

Gaya berpakaian para pengelana, pedagang dan bangsawan China pada era tersebut, sedikit banyak dipengaruhi kain-kain sutra yang indah. Jubah yang dipotong longgar dengan lengan yang bervariasi dari lebar ke sempit, dikenakan dengan panel depan kiri dan kanan. Pakaian pria dan wanita kelas atas umumnya menjulur  panjang (sepanjang pergelangan kaki), seringkali dengan lengan yang lebar dan menggantung. Terkadang mantel atau jaket dikenakan di atas jubah itu sendiri.

Varian untuk wanita kelas atas adalah jubah yang lebih pendek dengan lengan yang lebih ketat, dikenakan di atas rok. Benang sutera — serat-serat sutera yang rusak dan kusut yang tersisa dari proses kepompong sutera — membuat bahan bantalan yang ringan dan hangat untuk pakaian musim dingin seperti itu.

Gaya berpakaian ini diterjemahkan dengan kain-kain lurik, batik dan lainnya, bertumpuk apik dan tidak terkesan berat. Kesan oriental dikuatkan dengan aksen kancing dan sulam pada jubah. Koleksi yang sungguh menarik dinikmati, melihat bagaimana Phillip meleburkan karakter Jawa dan oriental. 



Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Ulos Bergaya Edgy Minimalis - Jenahara Black Label

Ulos Bergaya Edgy Minimalis - Jenahara Black Label

READ MORE
Identitas Batik Liza Supriyadi

Identitas Batik Liza Supriyadi

READ MORE