Halal of Things

Halal of Things

Yuswohady dan Farid Fatahillah baru beberapa hari yang lalu menyelenggarakan talkshow bertajuk “Muslim Zaman Now”. Sebagai pemantapan jelang bulan Ramadhan, kata mereka. Satu di antara lima belas temuan mereka adalah Halal of Things. Istilah ini diinspirasi dari “Internet of Things”, yang berarti apa-apa di-internet-kan (saja).

Dalam konteks ini, halal sudah berubah menjadi “The hot label”. Yaitu label yang dicari oleh semua orang; sehingga semua penyedia juga berupaya ikut menyediakannya. Sehingga, apapun itu, di-halal-kan saja. Alias, Halal of everything. Apapun produk dan layanannya, semua harus pakai label halal. Ini menjadi semacam “magic word” yang bisa “menghipnotis” konsumen Muslim Zaman Now supaya ikut ketagihan. Pemilik merek pun berlomba-lomba menggunakan label halal. Lebih tepatnya, berlomba-lomba menjadi yang pertama melakukan klaim halal di kategorinya. 

Di kategori alat masak, ada Maxim Halania. Di web maxim.co.id dicantumkan keterangan bahwa Maxim Halania adalah “The World’s First Halal Certified Cookware”. Yang berarti, Perlengkapan memasak bersertifikat halal pertama di dunia. PT Maspion sebagai pemilik dari brand Maxim memang telah mendapatkan sertifikat halal untuk aneka produk dapur seperti penggorengan, panci, mangkok enamel, dan rantang.

Di kategori deterjen, ada Total Almeera. Ekstensi brand yang dikembangkan khusus untuk menyasar segmen konsumen Muslim Zaman Now. Tagline yang diusung #HALALituharusTOTAL, mengajak kaum muslimin untuk beribadah secara total. Alias “hijrah”. Termasuk totalitas “hijrah” ke yang Halal.

Di Indonesia, lemari es pertama bersertifikasi halal adalah merek Sharp. Promise (janji) yang mereka berikan adalah bahwasanya material, proses, dan fasilitas produksi sudah melewati serangkaian proses pengujian serta sudah lulus sertifikasi halal.

 


Beberapa bulan lalu, Zoya mengkampanyekan ke-halal-an bahan kain yang mereka gunakan sebagai hijab. Masyarakat seakan terbelah atas kampanye sejenis ini. Ada yang tidak setuju dengan alasan komersialisasi label halal ini.  Tidak sedikit pula yang memuji kecerdasan promosi pemasaran macam ini.

PT Shafco Multi Trading, pemegang merk Zoya, memang telah mendapatkan sertifikat halal untuk busana pria dan wanita dari anak-anak, remaja dan dewasa, atasan, bawahan, luaran, gaun, dan perlengkapan busana seperti mukena, ciput, kaos kaki, bandana, manset, seledang, kerudung dan sajadah.

Saya dan istri pun tidak luput dari kampanye demikian. Kami memilih sebuah mesin cuci rilisan terbaru karena produk ini termasuk “hijab series”. Mengapa hijab series? Sebab mesin cuci yang didesain cocok dan aman untuk bahan yang sensitif, seperti hijab. Demikian yang dikatakan di media promosi mesin cuci tersebut.


Fenomena yang tengah “memanas” di masyarakat kita memang sangat menarik. Seakan-akan, masyarakat masih memandang bahwa kehalalan terbatas pada apa yang kita konsumsi semata. Padahal, bila menyimak Majelis Ulama Indonesia, halal ternyata tidak sebatas apa yang kita konsumsi, tetapi juga pada pemakaian maupun penggunannya.

"Ketentuan halal dalam kaidah syariah tidak terbatas pada aspek konsumsi, namun mencakup aspek yang sangat luas, yaitu menggunakan ataupun memakai," kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF melalui situs MUI.

Sebagaimana kita tahu, sudah ada Undang-Undang khusus yang mengatur perihal halal ini, yakni Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH). Yang ternyata memang mengatur sampai dengan sertifikasi halal terhadap semua wadah makanan; tidak luput di antaranya adalah lemari pendingin (kulkas), perlengkapan memasak, dan lain sebagainya.

Berada di pihak konsumen, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi. "Kulkas adalah wadah makanan atau minuman. Bagaimana kalau medianya tidak halal?" kata Tulus. Sebagaimana dilansir oleh BBC Indonesia.


Mari kita bahas dari perspektif pemasaran.

Halal memang sedang trending sebagai conversations kita. Bahkan cenderung naik; hampir tidak pernah hilang dari peredaran. Dari sudut pandang pemasaran, menunggangi percakapan (riding the conversation) ini adalah sesuatu yang berisiko tinggi (high risk).

High risk, karena berarti sudah membatasi, memilih, dan menetapkan bahwa hanya konsumen muslim yang menjadi target pasar yang dibidiknya. Yang terjadi di lapangan adalah para pemilik brand non-makanan/minuman berlomba-lomba mengomunikasikan logo halal yang telah dikantonginya. Mereka berusaha mencuri perhatian muslim zaman now. Mereka melihat ini adalah “celah konten” yang bisa dimanfaatkan. Yakni berperan sebagai yang pertama halal dalam kategori masing-masing. Tetapi, tantangannya, celah konten ini bisa menguntungkan atau merugikan.

Yang namanya high risk, ya high return. High return karena tren pasar memang sedang menuju ke sana. Dan rasa-rasanya tidak akan kembali ke era sebelum booming-nya konsumen muslim ini. Jadi, bisa dapat banyak konsumen, pelanggan, serta pendapatan sekaligus.

api bisa juga yang terjadi adalah high-loss. Sebab belum tentu konsumen muslim memilih brand yang sudah mengklaim “pertama yang halal” tersebut. Bisa jadi, konsumen muslim secara umum belum memprioritaskan ke-halal-an di kategori produk tersebut. Dari berbagai kategori yang mengklaim pertama yang halal, Ini yang belum kita ketahui, sebenarnya.

Saat ini belum terbukti, sih. Tetapi, apa benar konsumen muslim mengutamakan ke-halal-an mesin cuci atau lemari es?

Dari pemasaran strategis, positioning adalah keharusan. Alias brand memiliki kavling di benak masing-masing konsumen. Sebagaimana dijelaskan Al Ries dalam bukunya “Positioning: The Battle for Your Mind”. Sehingga, konsumen dengan mudah me-recall brand tersebut. Itu di tingkat stratejik. Pembelian kavling tersebut dilakukan dengan cara menjadi yang pertama di kategorinya.

Total Almeera mengklaim sebagai deterjen halal pertama. Maxim Halania juga mengaku dirinya sebagai perlengkapan memasak halal yang pertama. Kulkas Sharp juga mengklaim sebagai yang pertama halal.

Mumpung ada kesempatan menjadi yang pertama, maka kesempatan ini dijadikan celah untuk berkomunikasi kepada masyarakat. Bila menjadi yang kedua mendapat sertifikat halal, tidak mungkin berpromosi diri sebagai yg kedua kan? Jadi satu-satunya peran sudah diambil oleh yang pertama. Tidak mungkin kan ada yang mengklaim sebagai kulkas halal nomor dua?

Inilah yang berlaku pada marketing. Jadilah yang pertama, atau terpaksa menjadi yang berbeda.


 


Tautan referensi: http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-44030138 Ketika Sertifikat Halal Diberikan untuk Kulkas dan Makanan Kucing.

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Paragon Innovation Summit, from Product Branding to Corporate Branding

Paragon Innovation Summit, from Product Branding to Corporate Branding

READ MORE