Generasi Muslim Muda dan Cara Mereka Membentuk Dunia

Generasi Muslim Muda dan Cara Mereka Membentuk Dunia

(Ditulis oleh: Ikhwan Alim)


Many times, you’re significant and need to be reconsidered when you are many. Seperti pemuda-pemudi muslim di dunia saat ini dan beberapa dekade ke depan. Yang berusia kurang dari 30 tahun, jumlahnya ada sekitar 2/3 dari populasi muslim itu sendiri. Dan yang berusia kurang dari 15 tahun, ada lebih dari 1/3-nya. Populasi muslimnya saja ada 1.6 Milyar manusia pada tahun 2010. Dengan prediksi pertumbuhan sekitar 73% sepanjang 4 dekade ke depan, maka pada tahun 2050 akan ada 2.8 Milyar muslim di seluruh dunia. Itu adalah seperempat penduduk dunia, menurut Pew Research Center. (http://www.pewresearch.org/fact-tank/2015/04/23/why- muslims-are- the-worlds- fastest-growing-religious-group/)

Sebagaimana buku-buku lain yang “mengetuk pintu rumah kita, bunyinya menyadarkan kita bahwa ada seseorang yang telah datang dan akan berada di sekitar kita untuk beberapa waktu ke depan”. Begitu pula dengan buku ini. Pengingat bahwa ada generasi muslim yang muda dan modern hadir di tengah-tengah kita. Mereka berbeda dari stereotip tua yang lama berkembang tetapi tidak relevan lagi. Semisal isu-isu penindasan terhadap kaum perempuan, radikalisme, terorisme, perang, dan islamofobia.

Sang Penulis, Shelina Jan Mohammed menyebut populasi yang relatif baru tersebut sebagai Generation M. Perlu kita garisbawahi, bahwasanya sebagian besar Gen-M tersebut bertumbuh berkembang dalam bayang-bayang tragedi 11 September 2001. Yang mana, tragedi tersebut membangun citra negatif terhadap Islam dan (tentu saja) para Muslim itu sendiri.

Jangan salah menduga bahwa buku ini sekedar memuat potret-potret tren sosial. Shelina adalah Vice President di Ogilvy Noor. Sebuah agensi periklanan yang bekerja sama dengan prinsipal-prinsipal dunia fokus mentarget dan menggarap konsumen-konsumen muslim di dunia. Sehingga, buku ini juga membawa perspektif pasar, industri, dan bisnis terkait dengan pasar Generation M -- yang besar dan bertumbuh terus -- tersebut.

Versi terjemahan bahasa Indonesia


Buku Generation M ini terdiri dari 15 chapter yang termasuk ke dalam 5 bagian besar. Bagian pertama memperkenalkan, “Salaam, Generation M.” Shelina berpendapat bahwa para Muslim seharusnya turut bertanggung jawab karena kurang berbagi mengenai pengalaman universal dalam ber-Islam. Tentu dalam bahasa dan konteks yang bisa dipahami oleh orang-orang pada umumnya. Kita masih kurang naratif, sehingga ke depannya, kita perlu turut berperan serta sebagai kurator terhadap waktu dan sejarah -Islam dan muslim- itu sendiri.

Di bagian kedua “The Global Muslim Lifestyle”, penulis menggaris-bawahi betapa pentingnya konsep halal dan thoyyib bagi Generation M. Begitu pentingnya hingga Gen-M tidak akan bermain-main dengannya. Para penyedia dan penjual kebutuhan Gen-M harus berhati-hati dengan ke-halal dan thayyib-an dari apa yang mereka tawarkan. Sebab Gen-M akan selalu mencari tahu sebaik apa mereka mengejawantahkan konsep tersebut –dan mereka pasti menemukannya. Sebab halal dan thayyib tidak hanya seputar konsumsi daging; melainkan mencakup banyak sekali kategori produk dan jasa.

Sementara bagian ketiga “Culture: The New Muslim Cool” mengenai cool-nya kultur/kebudayaan yang dibawa oleh generasi muslim yang baru. Salah satunya adalah Donna Auston bersama tagar #BlackMuslimRamadan. Yaitu satu di antara sekian peristiwa menarik oleh Generation M. Sebagai generasi modern, tentu saja Generation M melibatkan perangkat digital dan online dalam liputan maupun berbagai kampanyenya. Hal serupa juga disinggung oleh Yuswohady yang menulis buku #GenerationMuslim, tentang the new coolness bagi Gen M Indonesia.

Menurut sang penulis, perempuan dalam Islam sangat diberikan kebebasan dalam berpakaian. Oke, memang ada tuntutan untuk menutup aurat. Setelah tuntunan tersebut dipenuhi, betapa macam bahan, warna, dan ukuran dibebaskan kepada user- perempuan yang akan mengenakan hijab itu sendiri. Ada perbedaan yang sangat signifikan antara menjadi sederhana dan rendah hati (modest) dengan “bersembunyi di balik kain yang sangat lebar”.

Bagian keempat berjudul, “The New Twenty-First Century Ummah”. Maksud Shelina adalah, Generation M turut berdedikasi dalam menggubah narasi positif tentang Islam. Tentu saja, dengan cara dan metode ala Generation M. Meskipun telah menjadi penduduk dunia (global citizens) secara online dan offline, Gen-M tetap berkontribusi terhadap Islam dan komunitas Muslim secara keseluruhan.

Dan bagian terakhir tentang “The Faithful Future”. Dari sini, kita akan mendapatkan gambaran utuh mengenai Gen-M. Bagi generasi ini, Islam adalah “way of life” yang komprehensif. Islam adalah tentang hidup seimbang dalam berbagai dimensi: sosial, finansial, bahkan politik sekalipun. Islam bukan hanya tentang sholat lima waktu.

Salah satu yang dapat saya simpulkan dari buku ini adalah, Gen-M memilah dan memilih hal-hal yang mereka suka dari dunia barat. Lalu menyesuaikan kebutuhan (dan kesukaan) tersebut dengan aturan-aturan terkait dari Islam. Prinsipnya adalah, selama tidak dilarang (atau diatur) maka hal tersebut diperbolehkan. Di ranah yang diperbolehkan inilah, Generation M melakukan modernisasi, berkreasi, dan terhubung (connected) satu sama lain.

Pertanyaan penutupnya adalah, apakah kamu termasuk Generation M dunia?


please login to comment.

RELATED ARTICLES

The Rise of #GenM; Generation Muslim

The Rise of #GenM; Generation Muslim

READ MORE
Mewujudkan Tontonan Indonesia yang Lebih Baik, Ini Kesempatannya!

Mewujudkan Tontonan Indonesia yang Lebih Baik, Ini Kesempatannya!

READ MORE