Garis dan Kotak Pilihan Kami

Garis dan Kotak Pilihan Kami

Masih di bulan kedua tahun 2020 loka fashion Indonesia telah padat dengan berbagai event utama tahunan, dimulai dengan Muslim Fashion Festival yang berlangsung 20-23 Februari, disusul dengan debut rangkaian Fashion Rhapsody yang juga berlangsung selama 4 hari, 26-29 Februari 2020. 

Busana muslim atau modest fashion masih menjadi gerbong penarik yang tampaknya lumrah mengikuti permintaan dan antusiasme pasar terhadap mode tertutup. Kami, menjadi nama besar yang selalu diperhitungkan para penyelenggara event ini, sebagai brand modest fashion pionir dan memiliki gayanya sendiri. Kami -yang banyak orang masih menyebutnya sebagai Kami Idea-, pada tahun ini memasuki dekade kedua eksistensinya, yang semestinya akan menjadi milestone perkembangan brand ini. 

Kami menyadari hal tersebut, secara langsung dan tak langsung tersampaikan melalui kemunculannya pada dua panggung gelaran yang berdekatan ini; MUFFEST dan Fashion Rhapsody. Dalam salah satu konferensi media, Istafiana Candarini (Irin), salah satu founder Kami menceritakan bagaimana Kami ingin mengambil langkah berani, mengambil resiko bahkan, dengan koleksi-koleksi baru yang mereka luncurkan. Selama ini Kami bermain (terlalu) aman, dengan warna-warna subtle dan tone down, perpaduan serasi dan manis, yang memang sesuai dengan kecenderungan dan selera banyak wanita.

  

Disamping itu, tentu saja motif, satu faktor yang menjadi unsur mode utama koleksi Kami. Motif cetak yang diterapkan dalam setiap koleksi, yang menjadi kekuatan Kami selama ini. Kami selalu mengambil inspirasi dari unsur alam, dalam merancang motif. Ratusan motif telah dihasilkan dari brand ini, untuk puluhan seri koleksi selama sepuluh tahun berkarya. Irin menceritakan lebih lanjut, dua koleksi yang diluncurkan tahun ini merupakan ekspresi kejenuhan akan motif flora, sehingga mereka bereksperimen dengan motif-motif geometris. Meskipun dalam koleksi 'Cadiya' yang ditampilkan pada MUFFEST 2020 tetap menerapkan motif bunga melati sebagai aksen dan penyeimbang motif utamanya; garis-garis horizontal.

Nadya Karina, Creative Director dan Co-founder Kami, koleksi Cadiya mengangkat dua elemen yaitu garis dan Bunga Melati. Garis adalah koneksi antara dua titik dengan variasi tanpa akhir. “Garis vertikal cenderung bersifat kaku dan penuh energi, sedangkan garis-garis horizontal memiliki rasa ruang dan istirahat. Kombinasi kedua garis di sisi lain, mengomunikasikan stabilitas dan soliditas”, ungkapnya. Sementara itu untuk bunga melati memiliki kesan akan kemurniannya. 

Permainan garis yang dinamis, dari ruang, jarak, dan bentuk, sebagai hasil dari perhitungan detil tentu saja menjadi highlight dan key-design dari koleksi ini. Motif garis-garis tidak diterapkan begitu saja- secara biasa/pada umumnya, tetapi bagaikan ditata sedemikian rupa menghasilkan look yang tak membosankan di mata. 

  

Koleksi 'Cadiya'

Paduan warna hangat terracotta, salmon, dan beige dengan sage, navy, dan turquoise, menjadi tone warna kuat dari Kami yang tampaknya berlanjut ke koleksi kedua yang tampil di Fashion Rhapsody. Koleksi ini diberi nama 'Adanna', diambil dari Bahasa Afrika dan memiliki makna "putri seorang Ayah”.

Setelah garis, Kami mengambil motif checkered (kotak), yang desainnya terinspirasi dari kain Shuka, yakni kain yang dikenal sebagai 'selimut Afrika yang umum dikenakan oleh suku Maasai, Afrika Timur. Suku Maasai sendiri adalah orang-orang semi nomaden dari Afrika Timur yang terkenal dengan cara hidup mereka yang unik, serta tradisi budaya dan adat istiadat mereka, seperti halnya suku Dayak di Indonesia. Orang-orang di Suku Maasai dikenal hebat dan juga sebagai pejuang yang tangguh yang berburu makanan di sabana liar dan hidup dekat dengan binatang liar.

  

Identitas Maasai sering didefinisikan salan satunya oleh kain shuka merah. Sementara merah adalah warna yang paling umum, Maasai juga menggunakan kain biru, bergaris, dan kotak-kotak untuk membungkus tubuh mereka. Kain Shuka juga dikenal tahan lama, kuat, dan tebal yang mampu melindungi suku Maasai dari cuaca dan medan savannah yang keras.

“Bila diperhatikan, motif ini seperti motif checkered biasa, tetapi bila dilihat dari dekat, maka motif kotak ini terangkai dari jalinan serupa anyaman, Penggunaan beberapa jenis tekstur bahan dari mulai yang tebal sampai bahan yang tipis juga menjadi tawaran kami yang berbeda pada koleksi ini”, jelas Nadya Karina.

Tak ingin terjebak dengan desain yang cenderung 'aman', Kami menantang dirinya sendiri untuk lebih mengeksplorasi paduan motif dan warna. "Lebih berani untuk memadukan motif-motif yang berbeda, menantang rasa dan visual untuk sehingga desain Kami bisa makin berkembang. Kali ini Kami juga bermain pada rentang warna gelap yang berbeda dengan warna-warna lembut sebelumnya", kata Irin.


Motif-motif geometris bisa jadi merupakan kecenderungan tren yang dipilih oleh banyak desainer dan brand, membuka tahun ini. Merepresentasikan imej yang ingin lepas sejenak dari kesan feminin yang manis. Bagaimana desainer dan brand mengolah busana bermotif ramai -tren yang masih kuat sejak tahun lalu-, menjadi kunci kesuksesan koleksi tersebut berterima di pasaran. Yang jelas, konsumen selalu menginginkan unsur kebaruan, dan unexpected -tak terbayangkan sebelumnya- dalam busana mereka. 

See also:
-- Bermain Kotak ala Rani Hatta, ATS The Label & I.K.Y.K -- Garis dan Kotak Pilihan Kami -- Rekonstruksi Sajadah ala Lasouk --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Totalitas Menggarap Etnik, dari Olah Bahan hingga Kekuatan Styling

Totalitas Menggarap Etnik, dari Olah Bahan hingga Kekuatan Styling

READ MORE
Kilap Hologram & Iridescent 4 Desainer untuk 10 tahun Central Park

Kilap Hologram & Iridescent 4 Desainer untuk 10 tahun Central Park

READ MORE