Fashion with a cause, Interim Clothing & Sedabs Project

Fashion with a cause, Interim Clothing & Sedabs Project

23 Fashion District, sebuah perhelatan fashion yang diselenggarakan di 23 Paskal Bandung merupakan wadah bagi desainer seluruh Indonesia, terkurasi, untuk mempresentasikan tren fashion terbaru dan menggulirkan semangat kreatif, mendorong ekonomi melalui ready to wear fashion dan cinta produk lokal.

Misi tersebut yang selalu dibawa baik oleh penyelenggara, 23 Paskal dan Indonesian Fashion Chamber (IFC) maupun para desainer yang berpartisipasi, sudah merupakan perwujudan good cause. Beberapa desainer dan brand melalui panggung yang mendapat sorotan masyarakat luas ini juga ingin menyuarakan dan mengkampanyekan hal-hal baik dan spesifik, fashion for a cause.

Interim Clothing menyuguhkan koleksi terbaru Anurakti untuk musim kedua 2018 (fall 2018). Karya ini timbul dari kecintaan yang mendalam terhadap hasil karya budaya dan kain nusantara, sesuatu yang melekat pada karakter brand yang dimiliki oleh Dibya Hodi asal Surabaya ini. 

Kecintaan mendalam ini, kali ini ditampilkan dalam bentuk penggunaan kain lurik dengan pewarnaan alam, menghasilkan tona warna yang alami, organik dan terlihat sangat nyaman di mata. Konsep desainnya menunjukkan sisi modern wanita urban yang peduli terhadap fashion dan lingkungannya. Inilah yang menjadi highlight koleksi Anurakti, penggunaan pola-pola zero waste yang sangat ramah lingkungan.


Zero waste fashion sendiri adalah gerakan mengurangi limbah produksi busana yang sangat mengganggu ekosistem bumi. Fashion sebagai industri, menyumbang limbah produksi terbesar setelah minyak bumi. Penggunaan pola-pola tanpa limbah ini sangat mendukung gerakan pengurangan limbah dan cinta lingkungan. Dipadukan dengan kain lurik yang merupakan sisa produksi industri dalam bentuk benang yang digunakan ulang menjadi kain baru. 

Dari sisi busana Interim Clothing tetap menampilkan siluet Asia dengan tampilan yang modern, sebagai busana siap pakai untuk wanita urban. Seperti perpaduan siluet Tibet dengan gaya oriental lainnya, potongan-potongan loose, asimetris yang dinamis dan sangat wearable


Kampanye Anti-Plagiarisme 

Sedabs project merupakan sebuah proyek kolaborasi dari 6 desainer Indonesian Fashion Chamber lintas chapter (kota), Saffana, Eugeneffectes, Defika Hanum, Aldre, Belinda Ameliyah dan Syukriyah. Sedabs merupakan hasil dari singkatan nama depan mereka.

Kolaborasi yang terjalin atas kedekatan pertemanan dan profesi, yang telah dirintis sejak tahun lalu dalam beberapa event. Masih dalam tahap-tahap awal, sehingga kolaborasi ini ditunjukkan dalam bentuk show bersama dengan koleksi dari masing-masing desainer di dalamnya. Nantinya, mereka berkomitmen ingin mewujudkan sebuah ruang karya bersama, dengan beberapa koleksi yang merupakan hasil desain bersama.

Tampil satu slot pada 23 Fashion District hari kedua, masing-masing desainer menampilkan 3 busana yang sangat memperlihatkan karakter desain yang berbeda-beda. Salah satunya Eugeneffectes dengan sang desainer Eugenea Fitri, memiliki karakter spesifik yang sangat kuat yang disebutnya sebagai 'gembel glamour' yang bahkan telah terbentuk sejak hampir 10 tahun ia berkarya di dunia fashion. Eugene mengangkat gaya Grunge, sebuah aliran gaya yang legendaris dan sangat populer. Ekspresi grunge ini diwujudkan salah stunya dengan material dua sisi, bermotif kotak-kotak pada satu sisi dan warna solid yang kontras di sisi lainnya. Potongan serba loose yang juga menampilkan fitur tabrak motif, sebuah pendekatan yang jauh dari 'main aman' dan zona nyaman, ala Eugeneffectes. 

  

Ada pula Aldre Indrayana yang merupakan satu-satunya desainer laki-laki pada proyek ini, dengan karakternya yang edgy, unconventinal, unexpected, structured dan unisex. Desainer Surabaya ini selalu bermain dengan styling, dan memiliki prinsip (serta menunjukkannya) bahwa hampir semua desainnya bisa dipakai secara multi-gaya. Pada 3 busana yang ditampilkannya kali ini pun, merupakan hasil olah-kembali dan modifikasi dari busana-busana rancangannya sebelumnya. 

Begitu pula keempat desainer lainnya yang menampilkan kreasi busana modest, dengan gaya yang berbeda satu sama lain. 

  

Aldre - Belinda Ameliyah

  

Saffana -Defina Hanum

Sedabs Project pada kesempatan ini ingin meningkatkan kepedulian publik, untuk menghargai proses kreatif, dan hanya memakai dan membeli produk orisinal. Karena seorang fashion desainer sejatinya adalah pekerjaan kreatif, yang selalu menemukan ide-ide dan inovasi baru untuk menggerakkan antusiasme pasar. 

Memakai dan membeli produk orisinal, artinya melawan segala bentuk copycat dan plagiarisme dalam fashion. Prinsip penciptaan dalam fashion memang melibatkan proses A-T-M, Amati, Tiru, dan Modifikasi. Artinya sangat terbuka ruang untuk mengambil inspirasi dari siapapun, termasuk desainer lainnya. Tetapi tidak untuk copycat atau plagiarisme, yang benar-benar mencopy secara dominan atau keseluruhan sebuah karya.

Praktik copycat seperti ini sangat masif terjadi pada masa kini, dimana seluruh karya desainer bisa dengan mudah dilihat di semua platform media sosial dan kanal daring lainnya. Praktik seperti ini -meskipun desainer dituntut untuk satu/beberapa langkah di depan- tidak saja membuat demotivasi para desainer dan konten kreator, tetapi juga berakibat pada kejenuhan pasar.

Para copycats atau peniru di luar sana bisa jadi tidak akan peduli dengan urgensi ini, karena itu masyarakat, konsumen fashion yang harus menyadari pentingnya membeli produk dalam negeri yang orisinal. Membeli produk orisinal berarti menghargai proses panjang penciptaan sebuah karya, yang didalamnya melibatkan penemuan ide dan inovasi baru yang seringkali merupakan elemen paling penting pada sebuah karya. 

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Wardah dan 4 Desainer Tampilkan Wajah Terbaik Modest Fashion Indonesia

Wardah dan 4 Desainer Tampilkan Wajah Terbaik Modest Fashion Indonesia

READ MORE
Melirik Laku Wajik Tenun Kediri

Melirik Laku Wajik Tenun Kediri

READ MORE