Dudin Abdurrahman Menjawab Tantangan Muslim Zaman Now

Desain tempat wudhu sekaligus wastafel, memberi solusi kepada muslim zaman now yang taat menjalankan perintah agama namun fleksibel menanggapi dunia modern.

Dudin Abdurrahman Menjawab Tantangan Muslim Zaman Now

Tempatnya berkarya sebelum sekarang, rupanya kehilangan dirinya. Sebab, pemahamannya terhadap teknik-teknik produksi produk kriya (craft) berarti cukup mumpuni. Buktinya, tiga penghargaan kompetisi pernah dia raih.

Terbaru, adalah desain wastafel + tempat wudhu. Inspirasinya, berasal dari buku Gen M karya Shelina Janmohamed. Kontemplasinya terhadap naskah tersebut menyimpulkan satu kata: fleksibilitas. Menjadi seorang yang taat pada agama, tetapi harus beradaptasi pada modernitas dunia mendesak para muslim untuk bisa bersikap fleksibel di belahan dunia manapun. Tidak terkecuali di ruang kecil seperti kamar mandi (atau toilet). Demikianlah tantangan menjadi muslim zaman now.

image.png

Dudin berharap, suatu waktu nanti karyanya bisa diimplementasikan di negara-negara minoritas muslim yang menghormati perbedaan dan bersikap toleran terhadap muslim. Dudin merasakan betul dan berempati sekali terhadap para muslim yang minoritas di negara selain Indonesia.

Sebelum karya yang terakhir ini, adalah kemenangan yang membawanya ke Jepang. Berkat sayembara desain produk pula. Desainnya mengekspresikan kedaun-tehan suatu wadah berisi 10 kantong teh celup. Kita tahu betapa dekatnya Negeri Sakura dengan daun teh. Tea packaging buatannya “bercerita” bahwa teh bukan minuman biasa. Prosesnya rumit. Dari memetik ujung daun teh, sampai dengan pengemasan (packing), total ada 8 tahap wajib dilalui dengan tabah.

image.png
Sebelumnya, Dudin ke Hongkong. Karya pemenangnya adalah jam tangan terbuat dari material kayu dengan teknik pembuatan ala wayang kulit. Disebut teknik tatah sungging, Dudin menyajikan storytelling yang mengangkat nilai tambah sebuah jam tangan. Dari sekedar penunjuk waktu, menjadi penentu kelas sosial-ekonomi seseorang. Di dua negara tersebut, Dudin merasakan betul sulitnya berwudhu di fasilitas (seperti wastafel) yang tidak dikehendaki untuk basah. 

image.png

Seorang desainer produk biasanya lebih piawai mendesain dalam diam, lalu menampilkannya di pameran karya, sembari mempresentasikannya dengan gaya yang bertolak belakang daripada para penjaja (salesman) pada umumnya. Di situlah perbedaan seorang Dudin. Dia juga piawai dalam meramu kata guna menyajikan plot kisah pengembangan produknya. Mulai dari latar belakang masalah, pain point yang dialami user, hingga penyajian solusinya. Pendek kata, Dudin adalah desainer yang juga pandai menulis. Pergulatan pemikirannya bisa disimak di blog Dudin yang bisa diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar berikut.

Empat tahun sebelumnya Dudin menghabiskan waktu di bangku kuliah di kota yang dinginnya tidak seperti dulu lagi. Dari sana, dia menginsyafi bahwa menjadi kreatif (being creative) tidak bisa dipisahkan dari seluruh dimensi kemanusiaan itu sendiri. Bahwa menjadi manusia, berarti menjadi kreatif. Begitupun sebaliknya.

Sehingga, berkarya adalah berarti memikirkan, merenungkan, hingga memahami proses-proses berpikir manusia itu sendiri. Bila sudah mencapai titik terhebat (ultimate) ini, berkarya bukan lagi menjalankan profesi seniman, desainer, atau apapun. Namun berkarya sebagai seorang manusia.

Enam tahun sebelum Dudin menentukan pertanyaan, bertanya, merenung dan berimajinasi soal desain, dia beruntung berkesempatan belajar tentang beriman terlebih dahulu. Di sebuah pondok pesantren pria paling populer di negeri. Selepas dari sana dia mengambil kesimpulan. Bahwa baginya, beriman bukanlah tanda berhentinya nalar dan akal di hadapan samudera pertanyaan hidup. Justru beriman adalah pangkal dari merumuskan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dalam hidup dan mendesain.

Perjalanan hidup seorang Dudin tersebut pada akhirnya menjadi “kacamata”-nya dalam memandang segala sesuatu. Bagaimana empatinya terhadap sesama muslim yang notabene minoritas di negeri orang –pada akhirnya menjadi inspirasi sebuah wastafel-wudhu–, kemudian bagaimana dirinya merenungkan bentuk visual dan fisik sebuah kotak amal di suatu masjid –yang mengkomunikasikan transendentalitas sebagai sesuatu yang justru bersifat mengingatkan secara halus, alih-alih menyeramkan bin menakutkan.

Selain sebagai muslim, seorang Dudin menyadari dirinya masih terus berproses sebagai desainer (designer in-process). Simpulannya sementara ini adalah, desainer harus cukup cerdik untuk dapat menghantarkan (to deliver) desain produk yang mengakumulasi berbagai faktor pertimbangan konsumen di pasar, serta melihat dan menemukan celah di mana produk tersebut mampu tampil dan konsisten hadir di tengah-tengah persaingan fungsionalitas, estetik dan kedalaman kantong konsumen.

Apalagi di tengah-tengah arus informasi yang sedemikian cepatnya seperti saat ini, produk kita (berikut desainnya) cenderung sulit untuk “tersangkut” pada satu momentum ruang dan waktu. Kebudayaan kita sudah sedemikian “licin”-nya. Meski demikian, tetap kita sebagai desainer, menurut Dudin, tidak boleh berpikir dan bersikap pragmatis. Harus tetap idealis meski itu sulit. Kuncinya ya, harus dicoba terus.

Apalagi dunia desain di Indonesia baru bangkit kembali belakangan ini. Desain, yang notebene merupakan anak kandung industrialisasi, di Indonesia justru kurang terserap –sekaligus kurang terdistribusikan—oleh industri-industri besar. Kurang lebih 10 tahun terakhir, desain produk menggeliat. Yang diidentikkan dengan peran para UX (user experience) designer di startup-startup kita. Tokopedia (menuju 11 tahun), Traveloka (8), Go-Jek (10), dan Bukalapak (10).

Fenomena tersebut memang masuk akal. Digital lahir dan besar nyaris bersama para milennial itu sendiri –baik sebagai produsen maupun penggunanya. Berbeda dengan teknik-teknik tradisional seperti teknik pembuatan wayang –yang diaplikasikan oleh Dudin dalam produk jam tangan—yang membutuhkan waktu lebih lama untuk penguasaannya –sekaligus dipengaruhi permintaan pasar yang tidak setinggi dahulu.

Akhir kata, congratulations to Dudin. Kita semua selalu menunggu cerita dan karya darimu.


image.png

See also:
-- Dudin Abdurrahman Menjawab Tantangan Muslim Zaman Now --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Mengenal Seni Islami Kontemporer lewat MOCAfest

Mengenal Seni Islami Kontemporer lewat MOCAfest

READ MORE
Persepsi dalam 'Calligraffiti' El Seed

Persepsi dalam 'Calligraffiti' El Seed

READ MORE