Desainer IFC; Inspirasi & Ikhtiar Masker di Tengah Pandemi

Beragam masker rancangan para desainer ini tidak saja menjadi pelindung dan aksesori yang fashionable, tetapi juga menjadi wujud ikhtiar untuk melanjutkan bisnis di tengah pandemi.

Desainer IFC; Inspirasi & Ikhtiar Masker di Tengah Pandemi

Disrupsi. Istilah ini yang tadinya disebut-sebut oleh para ahli sebagai gangguan atau kekacauan atas kondisi normal terutama akibat kemajuan teknologi yang cepat dan masif, namun ternyata disrupsi itu kini datang dengan skala yang besar dan mengguncang, disebabkan oleh sebuah substansi mikro; virus. Pandemi COVID-19 menyebabkan kita semua terpaksa melakukan social distancing dan tiba-tiba semua aktivitas sosial kita terhenti. 

Dampak ekonomi tentu yang paling dirasakan bagi masyarakat luas, yang tidak tertular langsung oleh virus ini. Penurunan pendapatan, penurunan omset penjualan menghantam banyak sektor, salah satunya tentu ukm fashion. Industri fashion merupakan industri gaya hidup, yang terjadi karena adanya interaksi sosial. Bila tidak terjadi interaksi ini, tidak ada insentif bagi seseorang untuk membeli baju baru

Disrupsi ini memang menjadi tantangan terberat, dan disinilah kreativitas kita semua diuji. Bagi para desainer dan pemilik brand, berdiam diri tentu bukan pilihan. Disrupsi sosial boleh terjadi, tetapi kita tetap hidup dalam rasa kemanusiaan yang kuat, dan teknologi pun ada disana untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Ikhtiar inilah yang dilakukan oleh para desainer Indonesian Fashion Chamber (IFC), di masa-masa pandemi yang mungkin masih akan berlangsung lama. Solidaritas untuk membantu sesama, sekaligus mempertahankan dan melanjutkan bisnis yang berkelanjutan, membuahkan beberapa inovasi dan ikhtiar kreatif, salah satunya produksi masker yang fungsional sekaligus fashionable.

Iffah M. Dewi membuat koleksi Sogan Ayemayom homewear series dan masker, dengan batik Sogan yang menjadi ciri khas desainer dari Jogja ini. Meskipun di tengah kesulitan, filosofi adem ayem ini tetap dipegang, sebagaimana kita sebagai muslim berpegang pada sabar dan sholat. 

Desainer senior dari Jogja juga, Lia Mustafa melihat dan merasakan sekali bagaimana pandemi ini berdampak pada ekonomi kawasan batik, terutama di Pasar Beringharjo, Jogja. Lia bersama dengan sebuah organisasi ikut berpartisipasi memberikan bantuan tempat cuci tangan di kawasan Pasar Beringharjo. Selanjutnya, Lia juga membuat koleksi homedress dari batik yang didesain senada dengan masker, dan dipasarkan secara online melalui sosial media. Hasilnya, koleksi baju rumahan ini laku pesat. Karena memang 'daster' inilah yang sedang dibutuhkan semua orang saat ini.

  

Iffah M Dewi - Lia Mustafa


Desainer fashion Pinky Hendarto memproduksi masker kain dan juga busana APD (Alat Pelindung Diri) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan sekitarnya. Ada beragam jenis masker kain yang diproduksinya. Antara lain masker katun biasa, masker premium dengan bahan batik tulis, masker couple, masker keluarga (termasuk di dalamnya masker untuk anak-anak dan balita), serta masker cantik dengan aplikasi manik-manik. 

Menurutnya, masker kini dan selanjutnya tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari virus, debu dan polusi, tetapi juga sebagai penunjang penampilan. Dalam waktu dekat, pemilik Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo Semarang tersebut akan mengeluarkan koleksi set masker dan busana yang senada. Ia menyebutnya sebagai 'Masker in Fashion'. 

Menurut Deceu Suzan, yang harus dipersiapkan ketika wabah terjadi adalah mental. Baik mental diri sendiri, juga mental orang-orang di sekitar kita. Masa seperti ini membuat kita Deceu berpikir keras untuk bisa mempertahankan pegawainya, saat banyak pamerannya dibatalkan dan semua outletnya harus tutup. Deceu kemudian memproduksi Lace Mask, yang dibuat dari kain perca untuk mengurangi limbah industri. Terdiri dari 3 lapisan kain; kain lace pada bagian luar dan lapisan tengah, lalu kain organik anti bakteri pada bagian dalam. 

  

Deceu Susan - Pinky Hendarto


Desainer Wignyo Rahadi yang turut tergerak untuk merilis produk masker tenun melalui brand Tenun Gaya. Koleksi masker ini terbuat dari tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) jenis spunsilk dobi dengan kombinasi ragam warna dan corak bernuansa etnik kontemporer, antara lain modifikasi kawung. Serta diberi sentuhan tenun ATBM aksen full bintik dan salur bintik yang menjadi signature dari brand Tenun Gaya.

Melalui produk masker tenun ini, Desainer Wignyo sekaligus menggagas program donasi. Dengan membeli satu set produk masker tenun yang terdiri dari tiga buah masker senilai seratus ribu rupiah, maka pembeli dapat sekaligus berdonasi. Hasil penjualan produk masker ini akan didonasikan berupa sembako yang didistribusikan di sekitar workshop Tenun Gaya yang berada di Desa Padaasih, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, setiap hari Jum’at selama bulan Ramadan.   Dirancang dengan konsep patchwork bernuasa etnik kontemporer, setiap produk masker tenun ini memiliki kombinasi motif yang berbeda, sehingga dapat dikoleksi.

    


Anggota IFC chapter Jogja, Yuliana Fitri juga membuat masker kain yang serasi dengan busana tenun, lurik dan batik yang didesainnya. Untuk menjaga ciri khas dari Wastra Nusantara yang selama ini menjadi andalan di brand Aruna Creative miliknya. Masker kain bisa menjadi produk fashion yang sustainable, kaarena bisa digunakan kembali dan dibuat dengan sisa kain produksi.

Sementara desainer Elkana Gunawan meluncurkan program "Belanja Dari Rumah Dengan Harga Lockdown". Ia menerapkan harga diskon untuk  jaket/semi jaket dari bahan batik Cirebon cap-tulis yang dilengkapi dengan masker berbahan senada jaket. Busana yang biasanya berharga 700 ribuan, khusus harga lockdown ini kemeja batik lengan panjang atau jaket, bisa didapatkan seharga 450 ribu, sudah termasuk masker. 

  

Yuliana Fitri - Elkana Gunawan

Unik dan Playful dengan Masker Print

Masker-masker dengan print lucu dan komikal dari desainer Hannie Hananto ini dijamin akan membuat hari-hari #diRumahAja kita menjadi berwarna dan menyenangkan. Masker-masker warna-warni ini tidak saja fotogenic dan seru, tetapi juga membahagiakan. Siapa yang tidak ingin mendapatkan salah satu dari masker ikonik Hannie Hananto ini? Tapi sabar ya, karena masker-masker ini selalu diserbu habis setiap kali sang desainer mengumumkan PO di sosial medianya.

Desainer lainnya yang muncul dengan masker print, adalah Fenny Saptalia dari IFC Jakarta. Fenny membuat sendiri kain printingnya dengan tinta original yang memiliki sertifikat oeko tex standard 100 yang aman untuk lingkungan dan kulit sensitif. Masker ini merupakan bagian dari rangkaian koleksi bertema bunga Sakura, dengan koleksi gaun yang lebih dulu diluncurkan. 


   
Hannie Hananto - Fenny Saptalia
 

See also:
-- Strategi Desainer Hadapi Pandemi -- IPMI Meneguhkan Posisi Fashion Terkurasi -- Celebrate Ourselves Through Fashion -- JFW 2017; Ultrasuede Creates Extraordinary Look --

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Berharganya Perempuan, Pesan dalam Urang Banua Vivi Zubedi

Berharganya Perempuan, Pesan dalam Urang Banua Vivi Zubedi

READ MORE
Bukan 'Baju Lebaran', Koleksi Desainer yang Baru Rilis di Bulan Ramadhan ini

Bukan 'Baju Lebaran', Koleksi Desainer yang Baru Rilis di Bulan Ramadhan ini

READ MORE