20 Tahun Selasar Sunaryo Art Space

20 Tahun Selasar Sunaryo Art Space

Usia beliau tahun ini menginjak 75 tahun. Masih aktif berkarya, mencari inspirasi seni, dan berdiskusi dengan sejawatnya. Ketika saya berkunjung ke pameran 20 Tahun Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), beliau setidaknya membuat dua pertemuan dengan total lima orang koleganya. Salah satunya, adalah musisi senior Sam Bimbo.

Lokasinya di perbukitan di daerah Bandung utara, maka bersiap-siaplah untuk menaiki dan menuruni tangga kala mengeksplorasi ruang-ruang di SSAS. Tidak heran diberi judul 'Selasar' karena memang banyak ruang terbuka yang menyambungkan satu ruang pameran (tertutup) dengan ruang pameran lainnya. Pengunjungnya sekitar 40ribu orang setiap tahunnya.

Dua puluh tahun yang lalu, beliau yang masih staf pengajar di FSRD ITB kala itu mendirikan Selasar Sunaryo Art Space. Sesuai namanya, difungsikan sebagai ruang dan organisasi nirlaba yang mendukung pengembangan praktik dan pengkajian seni untuk publik secara luas. Sejak awal pendiriannya SSAS berkonsentrasi pada seni rupa kontemporer yang menonjolkan spirit eksperimentasi dan kebaruan yang relevan dengan perkembangan global.

Memang, pada tahun 1975 beliau mendalami teknik pahat marmer di Italia, persisnya di Carrara. Di kemudian hari, pembelajarannya ini berbuah dua karya agung: monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Jawa Barat yang terletak di seberang kampus Universitas Padjadjaran di Jalan Dipati Ukur, Bandung. Dan patung Jenderal Sudirman di Jakarta.

Marmer dan bambu, adalah dua bahan alam yang tekuni digeluti oleh beliau sampai kini. Bambu itu kuat tapi lentur. Elastisitas dan fleksibilitasnya justru menyerap getaran, katakanlah gempa bumi. Seniman Sunaryo kukuh berpendapat bahwasanya seorang seniman tidak seharusnya bekerja untuk mengubah karakter alamiah suatu material, tapi justru untuk membuatnya lebih 'lantang berbicara'.

Sang seniman, Sunaryo Sutono

Dari kedua bahan alam tersebut pula, Sunaryo sang perupa mengungkapkan perenungan mendalamnya mengenai hubungan manusia dengan alam. Tidak hanya keduanya, tetapi ada juga karya-karya beliau yang dibasiskan pada kayu, bambu bahkan air. Buktinya sebelum memasuki sentral pameran Lawangkala, pengunjung disuguhi dengan instalasi dua buah batu vertikal dengan satu sisinya memancarkan air ke sisi lainnya. Seakan-akan membentuk sebuah tirai air.

Begitu memasuki Lawangkala, kita disuguhi dengan karya-karya seniman Sunaryo yang fokus pada kecakapan tangan. Bagian-bagian rinci karyanya kerap menonjolkan teknik menganyam, menjahit, menempel atau mengikat. Tentu beliau tidak sendirian mengerjakannya. Sebagai seniman senior yang kaya dengan konsep, beliau mengedukasi para pengrajin sebelum mengeksekusi konsep Lawangkala ini.

   

memasuki Lawangkala / @zhula29

Pengalaman yang dihadirkan oleh instalasi bambu berbentuk lorong sepanjang 30 meter ini seakan menyatukan ruang dan waktu. Instalasi ini dapat diibaratkan sebuah lensa mikroskopik yang meneropong sebuah fragmen atau momen terkecil dalam kehidupan manusia. Yang mana, adakalanya kita dihadapkan pada 'perangkap-perangkap', di mana kita harus memilih dan menentukan sikap (diam terpaku menatap ilusi visual dan audio dari arus air, ikan-ikan, dan sinar bulan, atau bergerak meneruskan ('perjalanan') di lawangkala. Padahal, menurut beliau, kita tidak bisa kembali ke masa lalu.


Dari Lawangkala, perjalanan kami lanjutkan menuju pameran tunggal berisi lukisan-lukisan seniman Sunaryo. Nuansa yang disampaikan oleh lukisan-lukisan tersebut agak gelap, rupanya. Kegelisahan seniman Sunaryo disampaikan lewat 'kegelapan' tersebut. Kegelisahan yang terus ditumbuhkan untuk menjaga daya kritis terhadap lingkungan. Seiring dengan usianya yang tidak lagi muda, seniman Sunaryo secara sadar menjaga keseimbangan hidupnya sebagai manusia. Seri lukisan Lawangkala memanfaatkan kolase dengan material alam yang berkesean mentah, kasar, dan serat alami, seperti arang (charcoal). Lukisan ini juga dilengkapi dengan sobekan dan jahitan yang memberi kesempatan pada pengunjung untuk lebih berimajinasi tanpa batas.


Bersamaan dengan pameran 20 Tahun SSAS, Bale Project juga menghadirkan karya-karya dari 19 perupa kontemporer dari Bandung dan sekitarnya. Mereka terdiri dari Abdi Karya, Agus Suwage, Arin Dwihartanto Sunaryo, Bandu Darmawan, Cecep M Taufik, Chusin Setiadikara, Hedi Soetardja, I Made Wiguna Valasara, Irfan Hendrian, Iwan Yusuf, M Reggie Aquara, Maharani Mancanagara, Mella Jaarsma, Nurdian Ichsan, Nurrachmat Widyasena, Joko Avianto, Windi Apriani, dan Yuli Prayitno.

Patriot Mukmin, salah satu yang pernah berpameran bersama seniman Sunaryo, juga memiliki karakter serupa lewat teknik anyaman dan sayatan. Lukisan berjudul Al Fatihah #2 yang dibuatnya menghadirkan potret diri seorang tokoh di masa lalu, yakni Kartosuwiryo (1905-1962). Wajah salah seorang pemimpin DI/TII itu divisualkan lewat anyaman kain kanvas dan kain motif loreng khas TNI-AD. Patriot coba menciptakan ilusi optik di atas lukisannya.

Al Fatihah #2 / Patriot Mukmin

Bale Project adalah divisi yang mengkhususkan diri dalam perencanaan strategi dan bisnis, serta mengelola partisipasi seniman Indonesia di pasar seni global. Bale Project bertujuan sebagai platform bagi calon seniman Indonesia, kurator dan organisasi seni akan dapat memperoleh nilai pendidikan dan bisnis dari pasar seni global yang terus berkembang. Bersama dengan SSAS, Bale Project, dan Wot Batu berada di bawah naungan Yayasan Selasar Sunaryo.

Jangan lupa mampir ke Kopi Selasar. Menu-menu seperti caffe latte, cappucino, dan affogato coffee tentu ada. Namun, signature-nya adalah ginger coffee. Lokasinya semi-outdoor. Serasa minum kopi di halaman kebun belakang rumah.

Bawa fakta kehadiran kamu di sana dengan berfoto-foto di lingkungan SSAS yang instagrammable. Merchandise khas SSAS disediakan di souvenir shop-nya sebagai tambahan bukti bagi wisatawan kalau sudah pernah berkunjung ke SSAS.

Bagi kamu yang memiliki waktu dan kesempatan, rugi sangat kalau berwisata ke Bandung sebelum 23 Desember 2018, tetapi tidak mengunjungi 20 Tahun SSAS.

Tags

please login to comment.

RELATED ARTICLES

Dinding-Dinding Mural Baru di Yogyakarta, Wujudkan Kota Humanis

Dinding-Dinding Mural Baru di Yogyakarta, Wujudkan Kota Humanis

READ MORE